Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Mengabdi menjadi guru

Kakiku untuk pertama kalinya menginjak tanah di desa ini. Ya, desa ini sangat terpencil, begitulah kata orang-orang. Aku pun sependapat dengan mereka setelah aku melihat langsung kondisi desa ini. Desa ini sangat terpencil, tak ada listrik. Ya walaupun sekitar sepuluh persen anak di desa ini yang menjamah pendidikan. Itupun mereka harus berjalan jauh karena sekolah yang paling terdekat berada di luar desa ini. Aku Dwi agusnandar. Cita-citaku menjadi seorang guru. Aku telah lulus SMA. Aku tak bisa melanjutkan pendidikanku karena aku tak punya modal cukup banyak untuk kuliah. Lalu, aku memutuskan kesini untuk memberikan ilmu yang aku punya ini kepada mereka yang tak bisa sekolah. “Oh, sampeyan mau jadi guru disini?” Tanya kepala desa. “Iya Pak, saya ingin jadi guru. Daripada ilmu yang saya miliki terbuang sia-sia, mending saya bagi ilmu saya ke mereka,” jawabku. “Oh ya nak, nama sampeyan siapa?” Tanya kepala desa. “Oh ya pak, saya sampai lupa memperkenalkan diri,” aku tertawa kem...

Aku kau dan hujan

Hujan mengajarkanku banyak hal: Tentang kenangan. Harapan. Dan tentang? seseorang. — Ketika itu, aku sedang duduk di dekat jendela kelas, memperhatikan teman-teman yang asik main hujan. Saat itulah kau datang menghampiri. “Hei, Gunung Es.” Sapamu santai. Aku yang tak ingin diganggu langsung menatapmu jengkel. ‘Just leave me alone!’ Usirku dalam hati. Tapi kau malah terkikik geli. Tanganmu sigap menarik kursi lalu duduk di hadapanku. “Enggak terasa masa SMA kita akan berakhir.” Raut wajahmu mendadak berubah sendu, manik cokelat muda yang biasa bersinar itu meredup seakan kehilangan energi. “Ya,” jawabku singkat melempar pandangan ke arahmu. Nih orang kenapa sih? Kau membalas lewat senyum yang dipaksakan, “itu artinya kamu akan bebas karna aku nggak akan mengusik lagi.” Kedua sudut bibirku tertarik ke samping, “baguslah kalo gitu.” Hari-hari akan kulalui dengan nyaman. Tidak ada panggilan “Gunung Es” lagi, Tidak ada ocehan menyebalkan Tidak ada yang akan menggeser posisiku di ...

Mengejar Mentari

Siang itu, di sebuah rumah tua dan usang. Di tengah ruangan berdirilah seorang lelaki berusia 20 Tahun. Memiliki mata yang sesikit besar, hidung mancung, kulit putih, tubuh tegap badan semampai. Seolah ia adalah lelaki pekerja keras dan rambut cepak yang membuatnya semakin terlihat tampan. “Ketika penjelasan hanya dianggap bualan. Ketika janji hanya dianggap penenang. Maka apa yang harus dilakukan untuk membungkam mulut pencaci?? Ketika “kesabaran” harus terus berdiri kokoh di hati, ketika pikiran membalut hati? Kekerasan yang menghakimi jiwa” “Aku tidak bisa berjalan tanpa alas di tanah tandus nan gersang. Aku tak bisa berenang di danau yang keruh. Aku tak bisa melangkah tanpa arah.” Keluh Adra sembari melihat cahaya yang masuk ke dalam rumahnya melalui celah-celah atap rumanya. “Sudahlah Adra, kamu sadar. Ibumu ini hanya seorang pencuci Baju. Cukup ibu yang selalu dihina. Ibu tidak ingin kamu Terhina karena menikahi Wanita kaya. Meskipun seluruh cinta kau berikan. Itu tak...

Senja Menemaniku

Senja Jika disuruh memilih fajar atau senja, tentu aku akan memilih fajar. Kau tahu alasanku memilihnya? Fajar itu menjemput sang mentari. Dengan anggunnya sang mentari terbit dan menghangatkan langit. Menyinari sisa embun di pagi, mengisyaratkan pada seluruh isi semesta untuk segera memulai cerita. Tentu, semuanya terang, bercahaya dimana-mana, bahkan sekecil apapun celah dari ranting pohon yang saling menyilang akan tetap mendapat bias cahaya. Terbitnya sang mentari, pertanda dimulainya sebuah hari yang baru. Segala canda tawa ceria anak manusia tak akan dapat tersembunyi di sana. Indah bukan? Dan senja? Bukannya aku benci. Aku sedikit enggan memang dengan hadirnya. Mengisyaratkan berakhirnya sebuah cerita, menyisakan sunyi. Tidak ada cahaya yang begitu terang yang mampu menyinari bumi, hanya kelip lampu kecil yang seakan tak berarti. Tetap saja kegelapan pemenangnya, hawa dingin dan rasa sepi selalu hadir menemani. Menakutkan, mengharuskan cerita apapun harus tersimpan. Ent...

Jangan Lupa Bersyukur

. Hidup akan indah dan terasa enteng jika kita mensyukuri semua yang Allah berikan. Jika kita bersyukur kepada Allah maka Allah akan berikan kebahagiaan yg sebenarnya. Orang yg terbiasa gak bersyukur maka dia akan sempit hati dan pikirannya sehingga dia merasa hidupnya gak ada artinya. Dan jika dia ingin merasa disanjung oleh manusia maka hatinya akan mati, padahal sanjungan manusia gak ada artinya. Inilah penyakit yg sangat berbahaya yaitu penyakit kufur nikmat. Dimana lisan kita lebih mudah mengeluh daripada bersyukur kpd Allah. Sampai kapanpun jika posisi kita seperti ini mala kita tidak akan pernah tenang dan bahagia. Manusia memang terkadang lupa jika lebih banyak nikmat allah yang telah diberikan kepadanya,memang benar kadang sifat egois manusia itu lebih tinggi, terkadang ia hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa tau berapa banyak apa yang telah allah limpahkan padanya, padahal kalau dipikir pikir menggunakan akal sehat manusialah yang seharusnya berbanyak berbuat apa yan...

Kopi Di Pagi Hari

Secangkir Kopi Hari ini adalah hari yang sangat baik untuk mulai melakukan dan memulai aktivitas, tak lupa aku juga mampir ke tempat biasa ku singgah untuk menuangkan inspirasi di pagi hari yaitu ngopi di Sari Wangi yah betul sekali tepatnya di Jl. Tanjung Pura jika membahas tentang kopi yang tiada habisnya memunculkan inspirasi bagiku. Ketika aku menulis di sebuah kertas menceritakan apa yang menjadi topik pembicaraan hari ini, pagi ini dan bukan juga pagi ini sebenarnya tiap hari aku selalu di jemput sama temanku yaitu norman atau biasa di panggil maman aku si biasa manggilnya orang yang tepat waktu, karena kalau sudah ada janji sama dia pasti datangnya ke awalan tuhh wkwk. Belom juga biasanya siap siap dulu eh tiba tiba udah nongol aja di depan buat ngajak ngopi, padahal kadang terasa mager kalau tiap hari ngopi terus tapi ya mau gimana lagi namanya sahabat sendiri udah ngajak nggak di temanin malah ga enaklah pastinya. Tapi ada kesan tersendiri dari ngopi kami yang tiap har...

Desa Terpencil

Di desaku yang jauh dari keramaian, bersih udaranya dan sangat sejuk,desaku yang terpencil yang sangat sedikit penduduknya.Disaat malam hari cuacanya sangat dingin di Menunuk itulah nama desaku. Masyarakat disana masih sangat minim dengan alat transportasi, walaupun demikian masyarakat di desa trtap makmur karena dengan adanya pendidikan disana itu menjadi salah satu perubahan yang dapat mendorong warga desa Menunuk semakin maju dan berkembang.    Di desa kami mempunyai rumah yang sangat sederhana,dalam keluarga kami ada lima anggotanya, dan aku adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kehidupan kami seharianya sebagai masyarakat desa adalah mencari ikan, berladang, dan berkebun, dari hasil pertanian dan perikanan itulah kami bisa memenuhi kebutuhan sehari hari,di desa kami terdapat banyak sekali bukit bukit yang indah air terjun yang mengalir deras serta sungai sungai yang masih terjaga keasriannya,sedangkan untuk fasilitas seperti listrik ditempat kami baru saja ada wacana ...