Mengabdi menjadi guru
Kakiku untuk pertama kalinya menginjak tanah di desa ini. Ya, desa ini sangat terpencil, begitulah kata orang-orang. Aku pun sependapat dengan mereka setelah aku melihat langsung kondisi desa ini. Desa ini sangat terpencil, tak ada listrik. Ya walaupun sekitar sepuluh persen anak di desa ini yang menjamah pendidikan. Itupun mereka harus berjalan jauh karena sekolah yang paling terdekat berada di luar desa ini.
Aku Dwi agusnandar. Cita-citaku menjadi seorang guru. Aku telah lulus SMA. Aku tak bisa melanjutkan pendidikanku karena aku tak punya modal cukup banyak untuk kuliah. Lalu, aku memutuskan kesini untuk memberikan ilmu yang aku punya ini kepada mereka yang tak bisa sekolah.
“Oh, sampeyan mau jadi guru disini?” Tanya kepala desa.
“Iya Pak, saya ingin jadi guru. Daripada ilmu yang saya miliki terbuang sia-sia, mending saya bagi ilmu saya ke mereka,” jawabku.
“Oh ya nak, nama sampeyan siapa?” Tanya kepala desa.
“Oh ya pak, saya sampai lupa memperkenalkan diri,” aku tertawa kemudian tersenyum. “Nama saya Dwi, Pak,” sambungku sambil mengulurkan tangan berjabat tangan.
“Saya Winoto,” ujar kepala desa yang bernama Winoto yang lantas menerima jabat tanganku.
“Kalau lihat dari wajah nak Dwi, mirip sekali dengan anak saya,” sambung Pak Winoto.
“Emm, lalu anak bapak dimana sekarang?” Tanyaku penasaran.
“Anak saya telah gugur dalam peperangan saat dia masih menjabat sebagai anggota tentara,” jawab Pak Winoto sambil meneteskan air mata.
“Maaf pak, saya tidak tahu,” ujarku turut bersimpati.
“Ya tidak apa-apa nak, orang bapak yang mulai bercerita kok,” ujarnya.
Kembali ke persoalan tadi, masalah gaji, saya tidak bisa menyanggupi jumlah gajinya, nak,” keluh Pak Winoto.
“Ah tidak apa-apa, pak. Jangan khawatir dengan masalah itu. Saya menerima gaji dengan sukarela kok,” jawabku.
“Oh ya pak. Malam ini saya tidur dimana?” Tanyaku.
“Nanti mas Dwi bisa menempati rumah kontrakan saya. Bisa mas Dwi pakai sampai kapanpun mas Dwi mau,” ujar Pak Winoto.
“Wah, terima kasih banyak, Pak!” Sahutku.
“Mari saya antar,” ajak Pak Winoto.
Aku menatap lekat wajah-wajah di dalam foto yang tak asing bagiku. Mereka yang telah merawatku, membimbingku, dan menafkahiku selama 20 tahun terakhir ini. Ya, mereka adalah orangtuaku. Yang mendidikku dari TK hingga SMA. Hingga suatu saat kejadian itu terjadi…
“Ayah, bunda gak sabar deh lihat ekspresi Dwi Kembali ke persoalan tadi, masalah gaji, saya tidak bisa menyanggupi jumlah gajinya, nak,” keluh Pak Winoto.
“Ah tidak apa-apa, pak. Jangan khawatir dengan masalah itu. Saya menerima gaji dengan sukarela kok,” jawabku.
“Oh ya pak. Malam ini saya tidur dimana?” Tanyaku.
“Nanti mas Dwi bisa menempati rumah kontrakan saya. Bisa mas Dwi pakai sampai kapanpun mas Dwi mau,” ujar Pak Winoto.
“Wah, terima kasih banyak, Pak!” Sahutku.
“Mari saya antar,” ajak Pak Winoto.
Aku menatap lekat wajah-wajah di dalam foto yang tak asing bagiku. Mereka yang telah merawatku, membimbingku, dan menafkahiku selama 20 tahun terakhir ini. Ya, mereka adalah orangtuaku. Yang mendidikku dari TK hingga SMA. Hingga suatu saat kejadian itu terjadi…
“Ayah, bunda gak sabar deh lihat ekspresi Dwi saat melihat kado ulang tahunnya ini,” ujar bunda bersemangat.
“Iya bun, ayah juga gak sabar. Pasti mata Dwi berkaca-kaca melihat isi kado ini,” sahut ayah.
Di tengah asyiknya mengobrol, ayahku tak sengaja menabrak sebuah pohon yang menewaskan ayah dan bundaku. Saat itu, aku lagi di rumah menunggu kepulangan mereka. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Namun, ayah dan bunda belum juga pulang. Aku lantas menelepon orangtuaku. Kedua-duanya tak menjawab panggilanku. Lantas sesaat kemudian, aku mendapat telepon dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa ayah dan bundaku mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka pulang ke rahmatullah.
“Ayah, bunda! Bangun! Jangan tinggalin Dwi! Dwi gak bisa hidup tanpa ayah dan bunda. Bangun ayah! Bangun bunda!” Teriakku histeris saat jenazah mereka tiba di rumahku.
“Sudahlah Dwi, ikhlaskan saja. Ayah dan bundamu tak akan bangun lagi,” ujar tanteku menghiburku agar aku tenang.
“Maaf, kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan bahwa kami menemukan sebuah kado di dalam mobil kejadian. Ini kadonya,” ujar Pak Polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan memberikan kado itu padaku.
“Terima kasih banyak, Pak!” Sahutku sambil menerima kado itu.
Sejak saat itu, aku berlatih hidup mandiri tanpa ada bantuan orangtua. Aku juga terpaksa tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomiku. Rumah orangtuaku juga kujual karena aku harus membayar hutang-hutang orangtuaku. Sekarang aku tinggal bersama tanteku yang bernama Diana. Tante Diana tak bisa berbuat banyak ketika aku mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke desa ini. Tante hanya berharap aku berangkat dan pulang selamat sampai tujuan.aat melihat kado ulang tahunnya ini,” ujar bunda bersemangat.
“Iya bun, ayah juga gak sabar. Pasti mata Hendra berkaca-kaca melihat isi kado ini,” sahut ayah.
Di tengah asyiknya mengobrol, ayahku tak sengaja menabrak sebuah pohon yang menewaskan ayah dan bundaku. Saat itu, aku lagi di rumah menunggu kepulangan mereka. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Namun, ayah dan bunda belum juga pulang. Aku lantas menelepon orangtuaku. Kedua-duanya tak menjawab panggilanku. Lantas sesaat kemudian, aku mendapat telepon dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa ayah dan bundaku mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka pulang ke rahmatullah.
“Ayah, bunda! Bangun! Jangan tinggalin dwi! Dwi gak bisa hidup tanpa ayah dan bunda. Bangun ayah! Bangun bunda!” Teriakku histeris saat jenazah mereka tiba di rumahku.
“Sudahlah Dwi, ikhlaskan saja. Ayah dan bundamu tak akan bangun lagi,” ujar tanteku menghiburku agar aku tenang.
“Maaf, kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan bahwa kami menemukan sebuah kado di dalam mobil kejadian. Ini kadonya,” ujar Pak Polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan memberikan kado itu padaku.
“Terima kasih banyak, Pak!” Sahutku sambil menerima kado itu.
Sejak saat itu, aku berlatih hidup mandiri tanpa ada bantuan orangtua. Aku juga terpaksa tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomiku. Rumah orangtuaku juga kujual karena aku harus membayar hutang-hutang orangtuaku. Sekarang aku tinggal bersama tanteku yang bernama Diana. Tante Diana tak bisa berbuat banyak ketika aku mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke desa ini. Tante hanya berharap aku berangkat dan pulang selamat sampai tujuan.
“Iya Pak, saya ingin jadi guru. Daripada ilmu yang saya miliki terbuang sia-sia, mending saya bagi ilmu saya ke mereka,” jawabku.
“Oh ya nak, nama sampeyan siapa?” Tanya kepala desa.
“Oh ya pak, saya sampai lupa memperkenalkan diri,” aku tertawa kemudian tersenyum. “Nama saya Dwi, Pak,” sambungku sambil mengulurkan tangan berjabat tangan.
“Saya Winoto,” ujar kepala desa yang bernama Winoto yang lantas menerima jabat tanganku.
“Kalau lihat dari wajah nak Dwi, mirip sekali dengan anak saya,” sambung Pak Winoto.
“Emm, lalu anak bapak dimana sekarang?” Tanyaku penasaran.
“Anak saya telah gugur dalam peperangan saat dia masih menjabat sebagai anggota tentara,” jawab Pak Winoto sambil meneteskan air mata.
“Maaf pak, saya tidak tahu,” ujarku turut bersimpati.
“Ya tidak apa-apa nak, orang bapak yang mulai bercerita kok,” ujarnya.
Kembali ke persoalan tadi, masalah gaji, saya tidak bisa menyanggupi jumlah gajinya, nak,” keluh Pak Winoto.
“Ah tidak apa-apa, pak. Jangan khawatir dengan masalah itu. Saya menerima gaji dengan sukarela kok,” jawabku.
“Oh ya pak. Malam ini saya tidur dimana?” Tanyaku.
“Nanti mas Dwi bisa menempati rumah kontrakan saya. Bisa mas Dwi pakai sampai kapanpun mas Dwi mau,” ujar Pak Winoto.
“Wah, terima kasih banyak, Pak!” Sahutku.
“Mari saya antar,” ajak Pak Winoto.
Aku menatap lekat wajah-wajah di dalam foto yang tak asing bagiku. Mereka yang telah merawatku, membimbingku, dan menafkahiku selama 20 tahun terakhir ini. Ya, mereka adalah orangtuaku. Yang mendidikku dari TK hingga SMA. Hingga suatu saat kejadian itu terjadi…
“Ayah, bunda gak sabar deh lihat ekspresi Dwi Kembali ke persoalan tadi, masalah gaji, saya tidak bisa menyanggupi jumlah gajinya, nak,” keluh Pak Winoto.
“Ah tidak apa-apa, pak. Jangan khawatir dengan masalah itu. Saya menerima gaji dengan sukarela kok,” jawabku.
“Oh ya pak. Malam ini saya tidur dimana?” Tanyaku.
“Nanti mas Dwi bisa menempati rumah kontrakan saya. Bisa mas Dwi pakai sampai kapanpun mas Dwi mau,” ujar Pak Winoto.
“Wah, terima kasih banyak, Pak!” Sahutku.
“Mari saya antar,” ajak Pak Winoto.
Aku menatap lekat wajah-wajah di dalam foto yang tak asing bagiku. Mereka yang telah merawatku, membimbingku, dan menafkahiku selama 20 tahun terakhir ini. Ya, mereka adalah orangtuaku. Yang mendidikku dari TK hingga SMA. Hingga suatu saat kejadian itu terjadi…
“Ayah, bunda gak sabar deh lihat ekspresi Dwi saat melihat kado ulang tahunnya ini,” ujar bunda bersemangat.
“Iya bun, ayah juga gak sabar. Pasti mata Dwi berkaca-kaca melihat isi kado ini,” sahut ayah.
Di tengah asyiknya mengobrol, ayahku tak sengaja menabrak sebuah pohon yang menewaskan ayah dan bundaku. Saat itu, aku lagi di rumah menunggu kepulangan mereka. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Namun, ayah dan bunda belum juga pulang. Aku lantas menelepon orangtuaku. Kedua-duanya tak menjawab panggilanku. Lantas sesaat kemudian, aku mendapat telepon dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa ayah dan bundaku mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka pulang ke rahmatullah.
“Ayah, bunda! Bangun! Jangan tinggalin Dwi! Dwi gak bisa hidup tanpa ayah dan bunda. Bangun ayah! Bangun bunda!” Teriakku histeris saat jenazah mereka tiba di rumahku.
“Sudahlah Dwi, ikhlaskan saja. Ayah dan bundamu tak akan bangun lagi,” ujar tanteku menghiburku agar aku tenang.
“Maaf, kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan bahwa kami menemukan sebuah kado di dalam mobil kejadian. Ini kadonya,” ujar Pak Polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan memberikan kado itu padaku.
“Terima kasih banyak, Pak!” Sahutku sambil menerima kado itu.
Sejak saat itu, aku berlatih hidup mandiri tanpa ada bantuan orangtua. Aku juga terpaksa tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomiku. Rumah orangtuaku juga kujual karena aku harus membayar hutang-hutang orangtuaku. Sekarang aku tinggal bersama tanteku yang bernama Diana. Tante Diana tak bisa berbuat banyak ketika aku mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke desa ini. Tante hanya berharap aku berangkat dan pulang selamat sampai tujuan.aat melihat kado ulang tahunnya ini,” ujar bunda bersemangat.
“Iya bun, ayah juga gak sabar. Pasti mata Hendra berkaca-kaca melihat isi kado ini,” sahut ayah.
Di tengah asyiknya mengobrol, ayahku tak sengaja menabrak sebuah pohon yang menewaskan ayah dan bundaku. Saat itu, aku lagi di rumah menunggu kepulangan mereka. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Namun, ayah dan bunda belum juga pulang. Aku lantas menelepon orangtuaku. Kedua-duanya tak menjawab panggilanku. Lantas sesaat kemudian, aku mendapat telepon dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa ayah dan bundaku mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka pulang ke rahmatullah.
“Ayah, bunda! Bangun! Jangan tinggalin dwi! Dwi gak bisa hidup tanpa ayah dan bunda. Bangun ayah! Bangun bunda!” Teriakku histeris saat jenazah mereka tiba di rumahku.
“Sudahlah Dwi, ikhlaskan saja. Ayah dan bundamu tak akan bangun lagi,” ujar tanteku menghiburku agar aku tenang.
“Maaf, kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan bahwa kami menemukan sebuah kado di dalam mobil kejadian. Ini kadonya,” ujar Pak Polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan memberikan kado itu padaku.
“Terima kasih banyak, Pak!” Sahutku sambil menerima kado itu.
Sejak saat itu, aku berlatih hidup mandiri tanpa ada bantuan orangtua. Aku juga terpaksa tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomiku. Rumah orangtuaku juga kujual karena aku harus membayar hutang-hutang orangtuaku. Sekarang aku tinggal bersama tanteku yang bernama Diana. Tante Diana tak bisa berbuat banyak ketika aku mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke desa ini. Tante hanya berharap aku berangkat dan pulang selamat sampai tujuan.
Komentar
Posting Komentar