Aku kau dan hujan

Hujan mengajarkanku banyak hal:
Tentang kenangan.
Harapan.
Dan tentang? seseorang.
Ketika itu, aku sedang duduk di dekat jendela kelas, memperhatikan teman-teman yang asik main hujan. Saat itulah kau datang menghampiri.
“Hei, Gunung Es.” Sapamu santai.
Aku yang tak ingin diganggu langsung menatapmu jengkel.
‘Just leave me alone!’ Usirku dalam hati.
Tapi kau malah terkikik geli. Tanganmu sigap menarik kursi lalu duduk di hadapanku.
“Enggak terasa masa SMA kita akan berakhir.” Raut wajahmu mendadak berubah sendu, manik cokelat muda yang biasa bersinar itu meredup seakan kehilangan energi.
“Ya,” jawabku singkat melempar pandangan ke arahmu.
Nih orang kenapa sih?
Kau membalas lewat senyum yang dipaksakan, “itu artinya kamu akan bebas karna aku nggak akan mengusik lagi.”
Kedua sudut bibirku tertarik ke samping, “baguslah kalo gitu.”
Hari-hari akan kulalui dengan nyaman.
Tidak ada panggilan “Gunung Es” lagi,
Tidak ada ocehan menyebalkan
Tidak ada yang akan menggeser posisiku di peringkat kelas.
Tidak ada lagi? dirimu.
Harusnya aku lega, tapi entah mengapa justru setitik kesedihan yang malah merambat di hati. Semakin banyak seiring lebatnya hujan di luar sana.
Kau tertawa hambar lalu diam beberapa detik untuk mempertemukan pandangan denganku.
Mulutmu mulai berceloteh lagi, “tau nggak kenapa aku selalu gangguin kamu?”
Aneh, nada bicaramu terdengar sangat serius dan tatapanmu seperti tak sabar menunggu jawaban.
“Karena aku aneh.” Jawabku asal.
Kepalamu menggeleng mantap, jari telunjuk dan tengah menaikkan frame kacamata yang menghiasi wajah tampanmu. “Karena aku ingin melihat ekspresimu. Tiap hari, kamu selalu memasang wajah datar. Jujur saja, aku lebih suka kamu marah atau tersenyum dan tertawa lepas karena ulahku. Itu membuatmu terlihat jauh lebih ‘hidup’… asik bukan menjalani hidup tanpa topeng? Jadilah diri sendiri, karena ada seseorang yang selalu menganggapmu berharga,” kau berkata panjang lebar dengan gaya khas.
Aku tak tahu apakah harus senang atau marah mendengarnya.
Namun ada sesuatu yang tak kumengerti, perkataanmu tetiba membuat dadaku sedikit menghangat. Dan kehangatan itu akhirnya menular ke kedua pipi tanpa bisa dicegah.
Dapat kulihat wajahmu juga bereaksi sama.
“Mungkin ini terdengar konyol, tapi … boleh aku minta satu hal?” Tanyamu sedikit kikuk.
Sebelah alisku terangkat, “apa itu?” kataku sedikit penasaran sambil terus menekan perasaan yang tak mampu dijelaskan lewat apapun.
Menyaksikan semburat merah di wajah seorang pemuda adalah pemandangan langka bagiku. Begitu menenangkan sekaligus mendebarkan seperti halnya aroma hujan.
“Tolong jangan lupakan aku. Dan … bisakah kamu menunggu hingga waktunya tiba?” kau mengucapkannya tanpa ragu dan sialnya aku tak mendeteksi sinyal kebohongan di bola matamu.
Aku tersedak napas sendiri. Oke, ini membingungkan. Tidak. Tidak. Ini sangat sangat membingungkan!
Tapi, kenapa?! Kenapa aku malah mengangguk?!
Sh*t! Sh*t! Sh*t!!!! Apa yang kulakukan?!!!!
Aku menggeleng pelan setelah itu menunduk dalam. Berusaha rileks dan berharap semoga degup jantungku yang makin menggila ini tidak tertangkap indera pendengaranmu.
Aira, sadar! Dia itu musuhmu!
Ya. Musuh yang tak akan pernah bisa kubenci.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Baca

Laporan_3_dwi_agusnandar

Laporan Baca 2