Laporan_4_Dwi_Agusnandar

  LAPORAN BACAAN


OLEH : Dwi Agusnandar ( 11901100)


IDENTITAS JURNAL


Judul : Strategi Pembelajaran 


Penulis : Prof. Dr. Sri Anitah W.




PENDAHULUAN


Dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran, setiap guru dituntut untuk memahami benar strategi pembelajaran yang akan diterapkannya. 


Sehubungan dengan hal tersebut, seorang guru perlu memikirkan strategi pembelajaran yang akan digunakannya. Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat berdampak pada tingkat penguasaan atau prestasi belajar siswa.


Secara lebih terperinci, diharapkan mampu:


1. menjelaskan perbedaan antara pendekatan, strategi, metode, dan teknik 


pembelajaran;


2. mengidentifikasi teori-teori yang melandasi strategi pembelajaran;


3. mengidentifikasi berbagai jenis strategi pembelajaran berdasarkan pendekatan tertentu




ISI JURNAL


Didalam jurnal ini, penulis memberikan penjelasan bahwa Kata strategi berasal dari bahasa Latin strategia, yang diartikan sebagai seni penggunaan rencana untuk mencapai tujuan. Strategi pembelajaran menurut Frelberg & Driscoll (1992) dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi pelajaran pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam konteks yang berbeda pula. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilihuntuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Dick & Carey (1996) berpendapat bahwa strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pelajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran 


tertentu.


Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan khusus pembelajaran yang dirumuskan. Gerlach & Ely (1980) juga mengatakan bahwa perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran dengan tujuan pembelajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Strategi pembelajaran terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan betul-betul mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara bergantian. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa teknik (yang kadang- kadang disebut metode) dapat diamati dalam setiap kegiatan pembelajaran. 


Teknik adalah jalan atau alat (way or means) yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan siswa ke arah tujuan yang akan dicapai. Guru yang efektif sewaktu-waktu siap menggunakan berbagai metode (teknik) dengan efektif dan efisien menuju tercapainya tujuan.




TEORI YANG MELANDASI STRATEGI PEMBELAJARAN


Crowl, Kaminsky & Podell (1997) mengemukakan tiga pendekatan yang mendasari pengembangan strategi pembelajaran. Pertama, Advance Organizers dari Ausubel, yang merupakan pernyataan pengantar yang membantu siswa mempersiapkan kegiatan belajar baru dan menunjukkan hubungan antara apa yang akan dipelajari dengan konsep atau ide yang lebih luas. Kedua, Discovery learning dari Bruner, yang menyarankan pembelajaran dimulai dari penyajian masalah dari guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki dan menentukan pemecahannya. Ketiga, peristiwa-peristiwa belajar dari Gagne.




Berbagai Jenis Strategi Pembelajaran


A. STRATEGI DEDUKTIF - INDUKTIF


Pada waktu guru merencanakan pembelajaran, perlu dipertimbangkan strategi yang berguna untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. Beberapa strategi yang berpusat pada guru, seperti ceramah, resitasi, pertanyaan, dan praktik. Strategi yang lain lebih berorientasi pebelajar, yang menekankan pada inquiry dan discovery. Strategi pembelajaran menunjukkan kontinum yang terentang dari strategi yang berpusat pada guru, yang lebih eksplisit ke strategi yang berpusat pada pebelajar, yang kurang eksplisit.


Dengan strategi pembelajaran deduktif, pembelajaran dimulai dengan prinsip yang diketahui ke prinsip yang tidak diketahui. Dengan strategi pembelajaran induktif, pembelajaran dimulai dari prinsip-prinsip yang tidak diketahui ke prinsip-prinsip yang diketahui. Perbedaan antara keduanya dicontohkan sebagai berikut guru mengajar konsep “topic sentence”, guru yang menggunakan pendekatan deduktif meminta pebelajar membaca definisi “topic sentence”. Kemudian, guru memberikan contoh-contoh topic sentence dan mengakhiri pelajaran dengan meminta pebelajar menulis kalimat topiknya sendiri. Selanjutnya, guru dapat mereviu kalimat tersebut dan memberikan balikan Kekuatan strategi deduktif ini berpusat pada strategi pembelajaran yang menghubungkan antara contoh guru dan tugas pebelajar. Walaupun koran merupakan media yang bagus digunakan untuk pelajaran topic sentence.


Guru yang menggunakan pendekatan induktif mungkin memberikan contoh paragraf dengan penekanan pada topic sentence. Dengan strategi ini, guru tidak menceritakan pada awal ketika pebelajar mempelajari topic sentence atau guru tidak memberikan definisinya, tetapi pada akhirnya pebelajar akan menemukan sendiri apa yang dimaksud dengan “topic sentence”.




B. STRATEGI EKSPOSITORI LANGSUNG DAN BELAJAR TUNTAS


Strategi ekspositori langsung, guru menstrukturkan pelajaran dengan maju secara urut. Guru dengan cermat mengontrol materi dan keterampilan yang dipelajari. Pada umumnya, dengan strategi ekspositori langsung, guru menyampaikan keterampilan dan konsep-konsep baru dalam waktu yang relatif singkat. Strategi pembelajaran langsung berpusat pada materi dan guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas kepada pebelajar. Guru memonitor pemahaman pebelajar dan memberikan balikan terhadap penampilan mereka. Termasuk dalam strategi pembelajaran langsung, yaitu pembelajaran eksplisit.


Strategi belajar tuntas didasarkan pada keyakinan bahwa semua pebelajar dapat menuntaskan bahan yang diajarkan jika kondisi-kondisi pelajaran disiapkan untuk itu. Kondisi-kondisi tersebut meliputi pebelajar diberi waktu belajar yang cukup, ada balikan untuk penampilannya, program pembelajaran individual, berkaitan dengan porsi materi yang tak dikuasai pada pembelajaran awal, dan kesempatan menunjukkan ketuntasan setelah mendapat remediasi.


1. Pembelajaran Langsung


Pembelajaran langsung memiliki 4 komponen, yaitu (a) penentuan tujuan yang jelas, (b) pembelajaran dipimpin guru, (c) monitoring hasil belajar yang cermat, dan (d) metode organisasi dan pengelolaan kelas. Pembelajaran langsung efektif karena didasarkan pada prinsip-prinsip belajar behaviouristik, seperti menarik perhatian pebelajar, penguatan respons pebelajar, menyediakan balikan korektif, dan melakukan respons-respons yang betul. Hal ini juga cenderung meningkatkan waktu belajar.


2. Pembelajaran Eksplisit


Pembelajaran eksplisit menuntut guru untuk memberi perhatian kepada pebelajar, memberi penguatan atas respons yang benar, menyediakan balikan kepada pebelajar tentang kemajuannya, dan meningkatkan jumlah waktu yang digunakan pebelajar untuk mempelajari materi.


3. Belajar Tuntas


Belajar tuntas merupakan suatu pendekatan pembelajaran individual yang menggunakan kurikulum terstruktur yang dipecah ke dalam serangkaian pengetahuan dan keterampilan-keterampilan kecil yang dipelajari. Pembelajaran ini didesain untuk menjamin bahwa pebelajar menguasai tujuan pembelajaran dan juga memberi waktu yang cukup kepada pebelajar. 


4. Ceramah dan Demonstrasi


Ceramah dan demonstrasi, merupakan suatu strategi pembelajaran dengan kegiatan guru menyampaikan fakta-fakta dan prinsip-prinsip, sedangkan pebelajar membuat catatan-catatan. Mungkin hanya sedikit atau tak ada partisipasi pebelajar dengan pertanyaan atau diskusi. 


5. Demonstrasi


Demonstrasi sama dengan ceramah dalam hal komunikasi langsung dan pemberian informasi dari guru kepada pebelajar. Demonstrasi melibatkan pendekatan visual untuk menguji proses, informasi, ide-ide. Demonstrasi ini membolehkan pebelajar melihat guru sebagai pebelajar aktif dan model. Pebelajar dapat mengobservasi sesuatu yang riil dan bagaimana cara bekerjanya.


6. Pertanyaan-pertanyaan dan Resitasi


Apabila guru menggunakan pertanyaan, pertimbangkan tingkat pertanyaan, dan penggunaan pertanyaan konvergen dan divergen, jenis pertanyaan, serta cara menyusun pertanyaan. Pertama, pertanyaan￾pertanyaan dapat dikembangkan untuk tiap tingkat domain kognitif (pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi). Tiga tingkat pertama mempertimbangkan penguasaan pertanyaan tingkat rendah karena terutama menekankan pada ingatan dan penggunaan informasi sedang. Tiga tingkat di atasnya, domain kognitif yang memerlukan pertanyaan tingkat tinggi (di atas ingatan), menggunakan cara berpikir yang abstrak dan kompleks.


Kedua, ada dua jenis jawaban yang dikemukakan. Pertanyaan￾pertanyaan konvergen cenderung memiliki satu jawaban yang benar atau paling baik. Pertanyaan divergen sering merupakan pertanyaan yang terbuka dan biasanya memiliki banyak jawaban yang sesuai. Ketiga, menentukan jenis pertanyaan yang tepat pada situasi yang ada. Memfokuskan pertanyaan digunakan untuk memusatkan perhatian pebelajar pada pelajaran atau pada materi yang didiskusikan. Pertanyaan ini digunakan untuk menentukan apa yang telah dipelajari oleh pebelajar, untuk memotivasi dan menimbulkan minat pebelajar saat mulai dan selama pembelajaran atau mengecek pengertian pebelajar pada akhir pembelajaran. Pertanyaan penuntun, menggunakan petunjuk dan isyarat untuk membantu pebelajar dalam membetulkan jawaban. Pebelajar mungkin tidak menjawab pertanyaan secara lengkap. Dalam kasus ini, guru mungkin tetap pada pebelajar yang sama, untuk menanyakan satu atau beberapa pertanyaan penggali yang diharapkan dapat mengklarifikasi dan membimbing pebelajar untuk menjawab dengan lebih lengkap. Misalnya, Apa yang kau maksud dengan kata itu? atau dapatkah kamu menjelaskan dengan lebih lengkap? Apa alasanmu?


Keempat, tanpa memperhatikan jenis pertanyaan yang ditanyakan, susunlah pertanyaan. Tiga langkah untuk menyusun pertanyaan, yaitu (a) ajukan pertanyaan, (b) beri waktu beberapa saat, dan (c) sebut nama pebelajar yang akan diberi pertanyaan. Tanpa menyebut nama pebelajar tertentu saat mengajukan pertanyaan, semua pebelajar akan memikirkan ide untuk menjawabnya. Menggunakan waktu sebentar, berarti memberi kesempatan kepada pebelajar untuk berpikir tentang jawaban yang akan diberikan.


7. Resitasi


Resitasi termasuk pertanyaan guru secara lisan tentang materi yang telah dipelajari. Guru mungkin memakai resitasi sebagai suatu cara untuk mendiagnosis kemajuan pebelajar. Pola interaksi khusus, yaitu pertanyaan guru, pebelajar menjawab, kemudian reaksi guru. 


8. Praktik dan Latihan (Drill)


Praktik, termasuk memeriksa materi yang telah dipelajari. Praktik diharapkan untuk konsolidasi, klarifikasi, dan menekankan pada materi yang telah dipelajari. Kegiatan praktik lebih bermakna apabila waktunya longgar (tak hanya satu hari setelah tes). yang lain. 


9. Reviu berbeda dengan praktik dan latihan.


Reviu tidak memerlukan teknik latihan. Reviu dapat berbentuk (a) rangkuman pada akhir pelajaran atau unit atau pada akhir suatu bab, (b) kuis, (c) garis besar, (d) diskusi, dan (e) tanya jawab atau strategi yang lain.


10. Diskusi Kelas secara Keseluruhan


Diskusi kelas secara keseluruhan (satu kelas sebagai satu kelompok) pada umumnya kurang eksplisit dan lebih berpusat pada guru daripada strategi-strategi pembelajaran yang diuraikan di atas. Strategi ini mungkin berupa petunjuk guru atau bimbingan kepada kelas diatur dengan rentangan dari formal ke informal, dengan guru memiliki peran dari dominan ke tidak dominan. Diskusi merupakan suatu percakapan dengan beberapa orang dengan suatu tujuan tertentu. Diskusi kelas ini memerlukan banyak keterampilan-keterampilan dan praktik.


Sebelum memulai diskusi kelas secara keseluruhan, yakinkan bahwa pebelajar memiliki dasar pengetahuan yang cukup sebagai bekal diskusi. Diskusi tak dapat berjalan kalau pebelajar tidak banyak mengetahui tentang topik yang dibicarakan. Kadang-kadang diskusi digunakan sebelum pembelajaran sebagai suatu cara untuk membangkitkan minat pebelajar, tetapi informasi itu harus disajikan dalam waktu yang cukup. Jika digunakan secara tepat, diskusi dapat mendorong pebelajar berpikir kritis dan meningkatkan kemampuan pebelajar yang berprestasi rata-rata maupun yang kurang untuk berpartisipasi dalam proses belajar. Apabila diskusi digunakan dengan cara yang kurang benar, akan berakibat respons pebelajar rendah sehingga diskusi membosankan dan tidak mendorong pebelajar berpikir.


Diskusi dapat digunakan untuk tujuan kognitif maupun afektif. Pada domain kognitif, diskusi dapat meningkatkan pebelajar untuk menganalisis ide-ide dan fakta-fakta dari suatu pelajaran dan mengkaji hubungan antarmateri yang diajarkan. Pada domain afektif, diskusi dapat meningkatkan kemampuan pebelajar untuk menguji pendapatnya, berinteraksi dengan teman dan mengevaluasi ide-ide teman lain, serta untuk mengembangkan keterampilan mendengarkan dengan baik. Apa pun tujuannya, diskusi harus direncanakan dengan baik dan pertanyaan kunci dinyatakan pada awal pembelajaran.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Baca

Desa Terpencil

Laporan_3_dwi_agusnandar